Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Test link

Resensi buku Komandan Bangau dan Pasukannya

Buku Komandan Bangau dan Pasukannya ini saya dapatkan dari penulisnya langsung (Khairil Oktaviandi, atau lebih dikenal dengan sapaan Bang Okta), saat menjadi narasumber dalam acara seminar kepenulisan yang saya moderatori. Terima kasih Bang Okta.

Berikut ulasan saya tentang buku ini, mulai dari desain, tata letak, sampai dengan isi. Sehingga saya dapat membuat kesimpulan untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan buku ini.

Sampul dan Tata Letak

Buku ini terdiri dari 148 halaman, atau 74 lembar diluar sampul depan dan belakang, ukuran yang cukup tipis dan cocok dibaca untuk orang yang tidak kuat membaca berlama-lama seperti saya. Selain itu, pada buku ini didapati banyak ilustrasi-ilustrasi-ilustrasi berwarna.

Spasi antar baris yang tinggi dengan font serta gaya penulisan yang kasual juga menegaskan bahwa buku ini bisa dibaca dengan santai.

Isi

Awalnya saya mengira bahwa buku ini adalah buku fiksi, novel, cerpen, atau semacamnya, tetapi setelah saya baca pada bagian kata pengantar, ternyata buku ini berisi tentang kepemimpinan dengan sentuhan kearifan lokal, menganalogikan kehidupan bangau sebagai basisnya.

Buku ini mengajak pembaca untuk menggali hikmah dari setiap perjalanan bangau, dibalut dengan cerita menarik yang menurut saya akan memudahkan pembaca memahami maksud yang ingin disampaikan penulis.

Uniknya, buku ini juga disertai dengan semacam tes leadership, berisi soal-soal seperti pada buku-buku modul perkuliahan/sekolah.

Tata Bahasa

Meskipun menurut saya soal tata bahasa bukan unsur yang penting untuk buku seperti ini, tetapi tetap perlu saya komentari, pertama penggunaan bahasa asing yang tidak konsisten, yaitu pada bagian profil, kata "profil" pada halaman profil penulis pertama ditulis menggunakan Bahasa Indonesia, sedangkan pada penulis kedua menggunakan bahasa asing "profile" yang tidak ditulis miring.

Penggunaan frasa "lokal wisdom" juga rasanya kurang pas. Istilah tersebut bisa disubstitusi dengan "kearifan lokal" atau "local wisdom" jika ingin menggunakan bahasa asing.

Kedua, ada penggunaan tanda baca yang tidak sesuai yang semestinya, contohnya adalah penggunaan tanda titik dua (:) yang seharusnya ditulis tanpa spasi dengan kata sebelumnya [ref].

Tetapi sekali lagi, gaya kasual dari buku ini membuat poin tata bahasa sebenarnya tidak terlalu perlu untuk digaris bawahi.

Referensi

Menariknya, buku ini hanya berisi satu daftar pustaka saja, saya berasumsi bahwa para penulis melakukan sintesis dari referensi-referensi yang telah mereka dapatkan sebelumnya yang berbasis pengalaman.

Sebagaimana pada bagian prolog juga sudah disinggung soal referensi ini.

Pros and Cons

Isi yang ringan, dimensi yang pas, terdapat ilustrasi yang menarik, gaya kasual, dan menggunakan pendekatan kearifan lokal menjadi nilai yang patut dianggap sebagai kelebihan, sedangkan daftar rujukan yang disertakan terlalu sedikit menurut saya adalah kekurangan buku ini.

Kesimpulan

Bagi anda yang suka dengan buku kepemimpinan dan malas membaca buku tebal seperti saya, buku Komandan Bangau dan Pasukannya ini sangat layak untuk dimiliki.

Resensi ini tentu bersifat subyektif, dan ditulis berdasarkan sudut pandang saya, namanya juga resensi.

Seorang blogger yang jarang menulis.