Melanjutkan analisis data dari surat resmi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang dirilis pada 20 Februari 2026, mari kita alihkan fokus pada indikator kedua: Tingkat Kegemaran Membaca (TKM). Jika data IPLM menunjukkan bagaimana kita membangun fasilitas dan tata kelola literasi, maka TKM adalah cermin langsung dari behavior atau perilaku masyarakatnya.
Tahun ini membawa kejutan sekaligus perubahan mendasar dalam dunia tata kelola perpustakaan kita. Jika Anda menyadari adanya lonjakan atau perbedaan tajam antara target daerah tahun lalu dengan capaian saat ini, Anda tidak sendirian.
Hasil TKM 2025
Tingkat Kegemaran Membaca (TKM)
Data terbaru berdasarkan sumber Google Sheets (TKM).
Memuat data TKM...
Jika kita perhatikan secara saksama matriks di atas, terdapat satu pola yang konsisten hampir di seluruh daerah: variabel Pengelolaan cenderung mendapatkan skor yang jauh lebih stabil dan tinggi dibandingkan variabel Koleksi maupun Pelayanan.
Bagi tata kelola kelembagaan, pola ini memantik sebuah refleksi krusial. Secara administratif dan kerangka kerja (pengelolaan), fondasi perpustakaan di tingkat daerah mungkin sudah mulai terbangun dengan baik. Namun, eksekusi teknis dalam memperluas akses koleksi yang relevan serta inovasi layanan fisik tampaknya masih menjadi tantangan nyata yang menuntut strategi penganggaran dan program kerja yang lebih progresif di masa mendatang.
Perombakan Dimensi Pengukuran
Sama halnya dengan IPLM, instrumen TKM 2025 juga mengalami perombakan mendasar yang diatur dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Nomor 9 Tahun 2025. Pengukuran kegemaran membaca kini didekonstruksi menjadi tiga dimensi utama dengan pembobotan yang baru:
Dimensi Pra Membaca: Berbobot 15%, Dimensi Saat Membaca: Berbobot 50%, Dimensi Pasca Membaca: Berbobot 35%.
Perubahan instrumen dan tata cara perhitungan ini tentu berdampak langsung pada ketidaksesuaian antara capaian saat ini dengan target tahun-tahun sebelumnya. Oleh sebab itu, angka yang muncul hari ini tidak dapat disederhanakan sebagai indikasi “penurunan” atau “kenaikan” minat baca, melainkan harus dipahami sebagai sebuah nilai dasar (baseline) baru dalam perspektif pengukuran yang jauh lebih substantif.
Realitas Nasional: Didominasi Kategori Rendah
Jika kita membedah tabel nilai TKM Provinsi, instrumen baru ini menyajikan potret yang cukup menantang. Berdasarkan skala penilaian terbaru, nyaris seluruh provinsi di Indonesia kini berada pada kategori Rendah (rentang skor 50-64).
Menariknya, jika kita menganalisis distribusi nilai antar dimensinya, terdapat sebuah pola yang konsisten. Rata-rata capaian dimensi “Pra Membaca” secara nasional cenderung lebih kecil dibandingkan nilai pada dimensi “Saat Membaca” maupun “Pasca Membaca”.
Fenomena ini membuka ruang diskursus akademis dan celah riset yang sangat menarik untuk dieksplorasi lebih jauh, misalnya melalui pendekatan analisis bibliometrik atau riset kuantitatif. Mengapa aspek “Pra Membaca” (yang berkaitan dengan akses, motivasi awal, atau pencarian bahan bacaan) justru kerap menjadi hambatan pertama?

No Comment! Be the first one.